Akses TPQ Alimul Ilmi Ditutup, Santri Belajar di Jalan

TPQ Alimul Ilmi Diblokir Tembok, Santri Tetap Semangat Belajar di Jalanan

Domestik

TPQ Alimul Ilmi Diblokir Tembok, Santri Tetap Semangat Belajar di Jalanan

Akses TPQ Alimul Ilmi di Makassar mendadak diblokir oleh tembok setinggi dua meter. Akibatnya, puluhan santri harus belajar di pinggir jalan, tepat di depan bangunan pesantren yang tak lagi bisa mereka masuki.

Kronologi Penutupan Akses TPQ Alimul Ilmi

Peristiwa ini bermula pada pertengahan Juni 2025, ketika sebuah tembok permanen dibangun di jalan masuk menuju TPQ. Tanpa pemberitahuan resmi kepada pihak pengelola, akses satu-satunya menuju lembaga pendidikan ini pun tertutup. Warga sekitar dan wali santri menyayangkan tindakan sepihak ini, karena mengganggu proses belajar mengajar.

Reaksi Pengelola dan Warga Sekitar

Pimpinan TPQ Alimul Ilmi menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui alasan penutupan tersebut. Mereka juga telah menghubungi pemerintah setempat untuk mencari solusi. Sementara itu, warga sekitar mendukung para santri dengan menyediakan tikar dan makanan saat mereka belajar di tepi jalan.

Santri Tetap Semangat Belajar Meski di Jalan

Meskipun kondisi belajar sangat terbatas, para santri tetap menunjukkan semangat luar biasa. Dengan hanya beralaskan tikar dan terpal, mereka tetap melanjutkan hafalan dan pengajian. Ini menunjukkan bahwa semangat belajar agama tidak bisa dihentikan oleh tembok sekalipun.

Seruan Solusi dari Berbagai Pihak

Berbagai organisasi masyarakat dan tokoh agama menyerukan penyelesaian damai dan segera. Mereka berharap pemerintah kota Makassar turun tangan agar akses TPQ Alimul Ilmi bisa dibuka kembali demi kelangsungan pendidikan para santri. Tak hanya itu, sejumlah aktivis pendidikan dan lembaga kemanusiaan juga menyatakan dukungan moral dan hukum untuk memastikan anak-anak tetap bisa belajar dengan aman. Mereka menegaskan bahwa hak atas pendidikan tidak boleh dikompromikan oleh konflik lahan atau kepentingan pribadi.

Kesimpulan: Pendidikan Tak Boleh Terhalang Tembok

Penutupan akses TPQ bukan hanya menghambat kegiatan belajar, tapi juga mencederai hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan. Kasus ini menegaskan pentingnya komunikasi dan koordinasi antarpihak agar tidak ada lagi tembok yang membatasi masa depan generasi penerus. Pendidikan adalah hak dasar yang harus dijaga bersama, bukan dijadikan korban konflik. Diperlukan empati, kepedulian sosial, dan kesadaran bersama agar anak-anak tetap bisa mengakses ilmu dalam kondisi yang layak dan manusiawi.