Aktor Indonesia Deva Mahenra tengah menjadi sorotan tajam warganet setelah penampilannya dalam sejumlah serial dan film yang bertemakan perselingkuhan menuai respons luas. Bukan karena skandal pribadi, tetapi justru karena terlalu sering memerankan karakter pria selingkuh, Deva kini dijuluki netizen sebagai “Duta Perselingkuhan Indonesia.”
Deva Mahenra dan Peran “Selingkuhan Nasional” yang Melekat
Dalam beberapa tahun terakhir, Deva Mahenra terlihat sangat aktif membintangi film dan series bergenre drama rumah tangga, yang secara khusus menampilkan tokoh laki-laki yang tidak setia. Di antaranya, perannya dalam serial “Layangan Putus,” “Mantan Tapi Menikah,” hingga film terbaru “Sleep Call” dan “Perjanjian Ghaib”, Deva kerap menjadi sosok antagonis yang identik dengan perselingkuhan, manipulasi, dan gaslighting.
Warganet yang mengikuti karier akting Deva secara konsisten mulai menyoroti kemiripan karakter yang ia mainkan. Di berbagai media sosial, beredar meme, komentar satir, hingga potongan video yang menyandingkan beberapa dialog perselingkuhan dari berbagai proyek aktingnya. Dari situlah muncul label “Duta Perselingkuhan”, yang meskipun bernada bercanda, membawa pengaruh kuat terhadap persepsi publik.
Menanggapi Julukan: Reaksi Kalem Deva Mahenra
Saat dimintai tanggapan atas julukan tersebut dalam sebuah wawancara media, Deva Mahenra hanya tersenyum. Ia menegaskan bahwa dirinya hanyalah aktor yang menjalankan peran sesuai arahan sutradara dan naskah. “Saya bersyukur karena diberi kepercayaan untuk memainkan karakter kompleks. Itu artinya ada tantangan dan ruang untuk mengeksplorasi emosi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Deva mengingatkan bahwa tokoh yang ia perankan tidak mencerminkan kehidupan pribadinya. “Saya tidak pernah menyangka karakter fiksi bisa sedemikian melekat pada persepsi orang. Tapi begitulah dampak dunia akting. Artinya, akting saya berhasil,” tambahnya diplomatis.
Ketika Peran Menyentuh Realita: Publik Terbelah
Respons publik atas penobatan “duta” ini pun terbelah. Sebagian warganet menganggapnya sebagai bentuk pengakuan atas totalitas Deva dalam berakting. “Kalau Deva main, fix ada yang selingkuh,” tulis seorang pengguna Twitter dengan nada bercanda. Namun, sebagian lain justru menyayangkan stereotipe yang bisa terbentuk di benak masyarakat, terutama generasi muda yang mengkonsumsi tontonan digital secara intensif.
Psikolog sosial Dr. Ira Lestari mengomentari fenomena ini dengan menyebutnya sebagai efek “personifikasi karakter fiksi.” Menurutnya, aktor bisa menjadi sasaran stigma jika terlalu lama atau terlalu sering memerankan tipe karakter yang sama. “Namun seharusnya masyarakat bisa membedakan antara akting dan kenyataan. Ini tugas media juga untuk memberikan edukasi.”
Industri Hiburan yang Membutuhkan Karakter “Kelam”
Tak dapat dipungkiri, meningkatnya minat masyarakat terhadap kisah-kisah drama rumah tangga, cinta segitiga, dan perselingkuhan turut mempengaruhi produser dalam memilih narasi yang digarap. Karakter seperti Reza di Layangan Putus atau Andro di Sleep Call menjadi sentral karena mencerminkan sisi gelap relasi modern yang dekat dengan realitas.
Deva Mahenra, dengan wajah tenang namun penuh aura misterius, tampaknya dianggap cocok untuk memainkan peran-peran ini. Bahkan, para produser menyebut dirinya sebagai “aktor yang mampu membawakan karakter licik dengan elegan.” Maka tak heran, tawaran serupa terus berdatangan.
Apakah Julukan Ini Akan Terus Melekat?
Label “Duta Perselingkuhan” bisa jadi hanya tren sesaat di tengah hingar-bingar media sosial. Namun, ia juga bisa membentuk citra jangka panjang bila Deva tidak segera mengambil peran yang lebih beragam. Beberapa aktor besar di Hollywood juga mengalami hal serupa—dicap sebagai aktor genre tertentu akibat terlalu sering membintangi karakter sejenis.
Menanggapi hal ini, manajer Deva menyatakan bahwa aktor kelahiran 1990 tersebut sedang mempertimbangkan untuk mengambil proyek yang berbeda, termasuk genre komedi dan action, guna memberikan warna baru dalam kariernya. “Kami sangat terbuka terhadap kritik dan ingin memberikan sesuatu yang fresh bagi penonton.”
Di Balik Julukan, Ada Karya
Apa pun julukan yang dilekatkan publik, tak bisa dipungkiri bahwa Deva Mahenra adalah salah satu aktor Indonesia dengan kemampuan akting yang mumpuni. Ia mampu memerankan karakter yang membuat penonton kesal, marah, sekaligus kagum. Julukan “Duta Perselingkuhan” mungkin terdengar jenaka, tapi pada akhirnya, itu juga bukti bahwa aktingnya berhasil menggugah emosi.
Semoga ke depan, Deva Mahenra terus hadir dengan peran-peran yang lebih beragam, dan publik pun makin bijak membedakan antara seni peran dan kenyataan.